Minggu, 10 Maret 2013

Pendidikan Islam Adburrohman Wahid (GusDur)


BAB I
PENDAHULUAN

Di tengah-tengah situasi reformasi yang menghendaki dilakukannya penataan ulang terhadap berbagai masalah: ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, dan sebagainya, sangat dibutuhkan adanya pemikiran-pemikiran kreatif, inovatif dan solutif. K.H. Abdurahman Wahid yang lebih akrab dipanggil Gus Dur termasuk tokoh yang banyak memiliki gagasan kreatif, inovatif dan solutif tersebut. Pemikirannya yang terkadang keluar dari tradisi Ahl Al-Sunnah wal Jama’ah menyebabkan ia menjadi tokoh kontroversial.
Perannya sebagai Presiden Republik Indonesia yang keempat menyebabkan ia memiliki kesempatan dan peluang untuk memperjuangkan tercapainya gagasan-gagasan itu. Sebagai seorang ilmuan yang genius dan cerdas, ia juga melihat bahwa untuk memberdayakan umat Islam, harus dilakukan dengan cara memperbarui pesantren. Atas dasar ini ia dapat dimasukkan sebagai tokoh pembaharu pendidikan Islam.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Biografi
Gus Dur adalah nama panggilan Abdurrahman Wahid sehari-hari, sebutan Gus merupakn kependekan dari ''Bagus'', yang menurut budaya Pesantren pemilik nama itu ''berdarah biru'' yaitu anak seorang Kyai. Tidak akan diberi gelar Gus jika bukan anak dari seorang Kyai. Panggilan Gus semula hanya populer dikalangan Pesantren di Jawa yang sering dikesankan feodal, kini justru begitu egaliter, demokratis dan terkesan formalisme.
Gus Dur dilahirkn di Denanyar, jombang, 4 Agustus 1940, dari lingkungan Pesantren dan sentral Nahdlatul Ulama (NU). Walaupun Gus Dur selalu merayakan hari ulang tahunnya pada tanggal 4 Agustus, sebenarnya hari lahir Gus Dur bukanlah tanggal itu. Sebagaimana juga dengan banyak aspek dalam hidupnya dan pribadinya, banyak hal tidaklah seperti apa yang terlihat. Memang Gus Dur dilahirkan pada hari keempat bulan kedelapan. Namun perlu diketahui bahwa tanggal itu menurut penanggalan Islam, yaitu bahwa ia dilahirkan pada bulan Sya'ban, bulan kedelapan dalam penanggalan itu. Sebenarnya tanggal 4 Sya'ban 1940 adalah tanggal 7 September.[1]
Ayahnya adalah KH.Abdul Wahid Hasyim, Menteri Agama di Indonesia yang pertama pada tahun 1949 yang merupakan anak dari khadratu al syaikkh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari pendiri Pesantren Tebuireng Jombang dan pendiri organisasi Islam terbesar Nahdlatul Ulama. Ibunya Hj. Siti Solekhah juga merupakan keturunan tokoh besar NU, KH. Bisri Samsuri. Dengan demikian, Gus Dur secara genetik, baik dari keturunan ayah maupun garis keturunan ibu merupakan keturunan darah biru yang dalam budaya Jawa strata sosial tinggi.
Bahkan lebih dari itu, jika mau diruntut jauh keblakang. Gus Dur adalah keturunan brawijaya IV  yaitu Lembu Peteng, dengan melalui dua jalur keturunan inilah selanjutnya secara geonologi Gus Dur melengkapi silsilah keturunan keluarganya.
Gus Dur menikah dengan Siti Nuriyah, gadis asal Tambak Beras dan santrinya sewaktu mengajar di Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras jombang. Perkawinan Gus Dur sendiri dilakukan melalui perkawinan wali atau perkawinan '' jarak jauh '', tanggal 11 juli 1968. Disaat harus melangsungkan perkawinan, Gus Dur masih di Mesir, dan untuk kembali ke Indonesia sangat tidak memungkinkan. Kyai Bisrilah yang kemudian menjadi wakil penganten laki-laki. Sementara resepsi perkawinannya baru di langsungkan sekembalinya Gus Dur dari Mesir, tahun 1973. dari hasil perkawinannya dikaruniai 4 anak perempuan, yaitu Alisa Qotrunnada Munawarrah (lisa), Zannuba Arifah Chatsof (yeni), Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.

B.     Riwayat Pendidikan
Mengenai riwayat pendidikannya, Abdurahman Wahid mulai menuntut ilmu adalah sebagaimana berikut:
a.       SD di Jakarta 1947-1953
b.      SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) di Jakarta dan Yogyakarta, 1953-1957
c.       Pondok pesantren Krapyak, Yogyakarta, 1954-1957
d.      Pondok pesantren Tegalrejo, Magelang Jawa Tengah, 1957-1959
e.       Pondok Pesantren Tambak Beras, sambil mengajar di Madrasah Mualimat Tambak Beras Jombang, 1959-1963.
f.       Belajar di Ma’had al-Dirosah al-Islamiyah (Departement og Higer Islamic and Arabic Studies) al-Azhar Islamic University, Cairo Mesir, 1964-1969.
g.      Belajar di Fakultas Sastra Universitas Bagdad Irak, 1970-1972.
h.      Menjadi dekan dan dosen Fakultas Ushuludin Universitas Hasyim Asyari Tebu Ireng Jombang., 1972-1974.
i.        Sekretaris pondok pesantren Tebu Ireng, Jombang 1974-1979.
j.        Pengasuh Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan, 1979 sampai sekarang.
k.      Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Denanyar Jombang, 1996 sampai sekarang.
l.        Anggota Dewan Universitas Saddam Husain Bagdad.[2]
C.    Opini intelektual terhadap komunikasi politik Gus Dur
Satu hal yang amat menarik dari pemerintahan Gus Dur adalah kemisteriusan masalah komunikasinya, tanpa disadari. Berbagai masalah komunikasi kepresidenan di era kepemimpinan Gus Dur relatif sulit dipahami. Untuk itu agar lebih bisa memahami masalah masalah komunikasi Gus Dur harus di baca dengan metakomunikasi terhadap analisis status, power, and authority.
Artinya, ia tidak bisa di baca sebagai proses komunikasi yang lahir dari satu atau dua legitimasi yang sederhana saja. Orang yang memberikan respons, sadar atau tidak, akan cendrung lebih melakukan pemahaman metakomunikasi yang kompleks itu, dibanding terhadap ujaran figur lain, seringkali setiap respons yang keluar sudah lebih bercampur baur dengan ritualization, participation framework, and embeding. Gazali mencontohkan: ''dalam beberapa talkshow tv, banyak tokoh seperti kena sihir dan kehilangan daya kritisnya ketika berdiskusi atau mewawancarai Gus Dur.mereka lebih banyak terpingkal-pingkal daripada berdiskusi secara substansial''. Singkatnya menurut Gazali ada dua sisi langsung dari proses metakomunikasi ini:
Ujaran-ujaran Gus Dur akan diterima sebagai sesuatu yang ''populer" ditengah rakyatnya. Di sini "populer'' berarti disukai rakyat, antara lain karena terkesan terus terang, informal, spontan, santai, kocak dan mudah dirasakan sebagai berpihak pada rakyat banyak. Dengan demikian, makna "populer'' tidak langsung berarti rakyat paham betul atau mendukung substansi ujaran Gus Dur.
Sulit sekali mincul kritik yang tajam, terfokus, atau dengan alasan-alasan yang terlihat lebih kuat rasionalitasnya. Hal kedua ini juga kadangkala disebabkan oleh ketidak utuhan ujaran-ujaran Gus Dur.
Dalam segala kelebihan yang lahir dari multi-legitimasinya, Gus Dur sering menyampaikan ungkapan-ungkapan yang tidak di klarifikasi lebih jauh. Tetapi karena poin populer tadi, banyak kalangan atau bahkan masyarakat kita tammpaknya tidak berniat atau merasa tidak perlu mengejar kejelasannya lebih jauh. Akibatnya ada dua interpretasi yang berbeda, disatu sisi menganggap apa yang disampaikan Gus Dur adalah sebuah kebenaran, di sisi lain ada yang menganggap ujaran Gus Dur itu adalah sebuah kelakar politik.
Maka ketika hendak menganalisis efektifitas komunikasi politik Gus Dur, yang tidak boleh dilewatkan adalah memahami komunikasi politik Gus Dur dari dua sisi, yakni tidak hanya dari teks yang di ucapkan Gus Dur, tetapi lebih dari itu harus juga dilihat dari konteksnya. Dalam konteks apa Gus Dur menyampaikan komunikasi politik itu. Dengan melihat dua sisi itu akan terpahami makna yang tersimpan dibalik ujaran Gus Dur.
Menurut Kuipers, Gus Dur benar-benar menampilkan keunikan gaya kepemimpinan yang sangat berbeda di bandingkan dengan pendahuluanya. Banyak perubahan dalam kepemimpinan Gus Dur terutama dalam soal-soal demokratisasi, kebebasan pers dan politik. Kuipers menilai, sejauh ini Gus Dur menampilkan kepemimpinan politik yang terbuka. Saluran penyampaian pendapat politik sudah begitu besar dan terbuka (Jawa Pos, 2000).
Kuipers juga menyatakan bahwa Gus Dur merupakan Kyai yang mempunyai gaya kepemimpinan yang modern. Dengan menyitir pemikiran Max Weber tentang kepemimpinan yaitu:
Bersumber pada Kharisma, dimana kekuasaan bersumber dari dirinya sendiri.
Tradisional dimana orang itu mempunyai kekuasaan karena keturunan seperti Sultan atau Bupati-bupati, yang berkuasa karena faktor keturunan, hubungan keluarga, atau nepotisme.
Rasional (hukum), dimana orang mempunyai kekuasaan tersebut karena ia mengerti hukum.

Dengan menyetir pendapat Weber, akhirnya kuipers berkesimpulan bahwa Gus Dur mengombinasikan ketiga tipe kepemimpinan Tradisional, Kharismatik dan Rasional.
Tetapi pendapat ini di bantah Tjahjono, yang menilai kepemimpinan Gus Dur justru mengandalkan kemampuan intiutifnya, dibanding wawasan manajerial yang rasional. Gus Dur sering mengambil keputusan tanpa pengolahan dan analisis data atau informasi yang baik, untuk tidak mengatakan bahwa ia juga sering mengambil sikap dan keputusan tanpa data. Hal ini karena Gus Dur lebih mengandalkan kemampuan intuitifnya.
Model kepemimpinan intuitif semacam itu barangkali karena terpengaruh oleh gaya kepemimpinan di pondok Pesantren atau lebih tepatnya gaya kepemimpinan Kyai. Hal ini diakui oleh Laode Ida, yang melihat model manajemen kepemimpinan Gus Dur bergaya Kyai bukan bergaya politisi.
Langkah-langkah politik Gus Dur sering mengejutkan sebagian orang, melakukan politik tanpa balas dendam, orang-orang yang selama ini dianggap memusuhi oleh Gus Dur malah diajak berbicara. Manuver politik Gus Dur memang tidak mudah di mengerti oleh umum. Tetapi ada beberapa tindakan Gus Dur yang dari segi komunikasi kurang memperhatikan persepsi umum. Karena itu kata Hefner, pemerintah Gus Dur dan kalangan umum perlu mengingatkan efisiensi komunikasi.

D.    Komunikasi Politik Gus Dur dan Gaya Kepemimpinan Gus Dur
Pemikiran politik Gus Dur telah membawa suasana dunia perpolitikan Indonesia dinamis dan segar, hingga Gus Dur mendapatkan predikat sebagai seorang aktor politik (political player). Walaupun predikat sebagai political player sebagaimana di sebut itu tidak semuanya sependapat. Mengingat di masyarakat memang ada dikotomi dalam melihat sosok Gus Dur. Ada yang memandang dengan decak kagum, sebaliknya ada yang memandang dengan sinisme. Bahkan terkadang lebih dari itu, Gus Dur tidak jarang dinilainya sebagaimana inkonsisten, sekedar tampil beda, munafik, dan sebutan minor lainya (Al-Brebesy, 1999: 36). Penilaian ini diberikan di karenakan gagasan dan pikiranya yang acapkali sulit diikuti dan dipahami (Kasianto, 2003).
Hingga Emha Ainun Nadjib menyebut Gus Dur sebagai "orang gila" dalam sejarah. "orang gila" yang dimaksud Emha adalah orang yang menggagas apa yamg apa yang tidak digagas orang lain, memikir apa yang tidak dipikirkan orang lain, dan membayangkan apa yang tidak dibayangkan orang lain (Nadjib, Harian Jawa pos, 8/8/1993).
Karena gerakan-gerakanya yang sarat dengan kejutan itulah, tidak heran jika banyak orang, termasuk para pengamat politik, sulit mempredksi langkah-langkahnya. Adalah ungkapan kelakar Nurcholis Madjid, yang mungkin tepat untuk menggambarkan Gus Dur. Menurutnya "ada empat rahasia Tuhan yang tidak dapat diprediksi (unpredictable), yakni kelahiran, jodoh, umur, dan Gus Dur.
Kendati demikian, hal tersebut tidak serta-merta, berarti sosok Gus Dur adalah semacam misteri atau manusia super yang tidak terjangkau oleh rasionalistik. Bahwa dikalangan sebagian pendukungnya terdapat anggapan seperti itu, memang tak harus di ingkari. Tetapi hal ini sejatinya hanyalah menunjukan tingkat klompleksitas lingkungan dimana Gus Dur berada yang mungkin tidak bisa ditolak. Wilayah jelajah pemikiran Gus Dur untuk memasuki segala persoalan zaman dan menJawabnya, berangkat dari perjalanan hidup didalam lingkungan Dunia Pesantren, Dunia Intelektual, Politik, LSM, dan Kebudayaan.
Klompleksitas lingkungan Gus Dur, oleh kacung Marijan acapkali disebut sebagai "dunia langit" dan "dunia bumi". Sangat mempengaruhi kontemplasi teoritis dan pemikiran-pemikiran politiknya selama ini. Gus Dur tidak pernah lepas dari interaksi dinamis antara dua dunia yaitu "dunia langit" yang penuh dengan nuansa keagamaan, dan "dunia bumi" yang penuh dengan realitas-realitas.
Dalam dua dunia yang amat kompleks itu, Gus Dur hidup dengan latar belakang ideologi, budaya, kepentingan, strata sosial dan pemikiran yang berbeda-beda. Dari segi pemahaman keagamaan dan ideologi, Gus Dur melintasi jalan hidup yang lebih kompleks, mulai yang tradisional, ideologi fundamentalis, modernis sampai yang sekuler. Dari segi kultural, Gus Dur mengalami ditengah budaya timur yang santun, tertutup, penuh basa-basi, sampai dengan budaya barat yang terbuka modern, dan liberal. Demikian juga persentuhannya dengan pemikir, mulai yang konservatif, ortodoks sampai yang liberal dan radikal semua dialami.
Jadi secara kultural, menurut Al-Zastrouw, Gus Dur melintasi tiga model lapisan budaya. Pertama, Gus Dur bersentuhan dengan kultur dunia Pesantren yang sangat hirarkis, tertutup dan penuh dengan etika yang serba formal. Kedua, dunia timur tengah yang terbuka dan keras, Ketiga, budaya barat yang liberal, rasional dan sekuler kesemuanya itu tampaknya masuk dalam pribadi membentuk sinergi. Hampir tidak ada yang secara dominan yang berpengaruh membentuk pribadi Gus Dur, sampai sekarang masing-masing melakukan dialog dalam diri Gus Dur hingga saat ini. Inilah yang menyebabkan Gus Dur selalu kelihatan dinamis dan sulit dipahami
Gus Dur sangat senang dengan "ungkapan-ungkapan tersirat" yaitu suatu ungkapan yang lebih bersifat teateris dan intensional, sehingga orang lain harus melakukan penerjemahan dan penafsiran untuk dapat memahami dan mendapatkan kesan. Perkataan Gus Dur yang seringkali tidak diikuti mimik wajah, isyarat, dan kualitas tindakan, menyebabkan pendengar sulit sekali mendapatkan kesan nonverbal secara akurat
Pengujian material sering dilakukan oleh pengamat, namun sering kali arus tafsir komunikasi itu meleset jauh dengan apa yang sebenernya dikehendaki. Hingga banyak ahli yang mengatakan bahwa perkataan Gus Dur itu membingungkan, plin-plan, tidak bisa dipegang, esuk dele sore tempe dan sebagainya, Namun bagi mereka yang mampu mengontrol perilaku Gus Dur, menurut Basrowi, akan terkagum-kagum, alanghkah jauh berfikirnya.
Lebih lanjut Basrowi menjelaskan bahwa dominasi Gus Dur tersebut secara teoritis sangat positif karena dia lebih suka pada aras panggung belakang daripada panggung depan. Dimana kesan-kesan yang terbentuk itulah yang sebenernya ia kehendaki, bukan sulit kamuflase yang nampak dari luar yang tipis itu yang dikehendaki. Bahkan menurut. Simonede beavior, panggung belakang merujuk pada suatu wilayah sosial yang mapan dan umumnya mantap pada pendirian. Disana para aktor  telah melepas topengnya, tampil sejujurnya  dan karakter yang sepolosnya.
Walaupun sindrom dramaturgi ini kadang-kadang memang menjadi pertentangan antara kemauan tokoh terhadap peran yang disandangnya dengan kemauan "penonton" dalam hal ini rakyatnya. Hal itu akan menjadi stereotif. Tetapi anehnya jurang pemisah ini sengaja diciptakan Gus Dur, sehingga timbul keharusan untuk mempelajari disiplin salah satu bagian dengan sebaik-baiknya dan menghindar dari isyarat-isyarat yang tidak di kehendaki bersama.
Lebih lanjut basrowi menguraikan bahwa ada lima perspektif yang saling berdampingan yang dimiliki Gus Dur dalam mempermainkan dramaturginya, yaitu perspektif budaya, politik, teknis, struktur, metodologi yang semuanya itu menunjuk pada  dimensi realitas tertentu. Perspektif ini berada dalam satu dimensi yang saling tali-temali secara erat, laksana jaring-jaring dimana antara simpul yang lain saling berhubungan dan sulit dipisahkan. Dalam situasi sangat sulit Gus Dur selalu memilih satu atau lebih perspektif yang nyata-nyata ampuh digunakan untuk mengambil keputusan.
Analisis Basrowi atas berbagai wacana yang di lontarkan Gus Dur dengan menggunakan konsep dramaturgi dapat dibenarkan, dalam banyak hal memang wacana yang dilontarkan  Gus Dur tidak dapat dilihat hanya berdasarkan pada teks yang disampaikan, tetapi harus dalam konteks apa Gus Dur menyampaikan wacana itu. Hanya masalahnya, tidak semua orang atau rakyat bisa mampu mengontrol perilaku non verbal Gus Dur, tidak semua orang mampu memahami dan menerjemahkan berbagai ekspresi, dan lakon yang diperankan Gus Dur, apalagi menggali makna dibalik teks Gus Dur,  sangat sulit dilakukan oleh masyarakat awam.
Dan itupun rakyat dapat dipersalahkan, karena apakah memang penonton yang harus bisa memahami akting seorang aktor, apakah tidak sebaliknya aktor yang seharusnya bisa memahami karakter penontonnya. Artinya apakah rakyat yang harus memahami presidennya, bukankah tidak sebaliknya presiden yang seharusnya bisa memahami keinginan rakyatnya
Jika presiden yang harus bisa memahami karakter dan keinginan rakyatnya, maka yang harus dilakukan presiden pada setiap tindakan kebijakkannya adalah komunikatif. Sehubungan dengan itu, ada baiknya melihat bagaimana efektifitas komunikassi politik Gus Dur dan bagaimana pula implikasinya terhadap kepemimpinan Gus Dur.

E.     Efektifitas Komunikasi Politik Gus Dur
Dalam banyak kasus komunikatif politik yang disampaikan Gus Dur selama menjabat sebagai presiden agaknya tidak berbeda dengan gaya yang digunakan sebelumnya. Rupanya, Gus Dur ingin tetap bersikap seperti keberadaanya sebelum menjadi presiden,. Karena itu, Sering seolah-olah ia tidak bisa membedakan posisinya saat menjadi presiden dengan keberadaan masa lalu yang hanya memimpin organisasi islam terbesar berwatak tradisional yang bernama Nahdlatul Ulama (NU). Bukan itu saja, Gus Dur bahkan sesekali menunjukan karakter sebelumnya, yakni sebagai pengamat yang humanis dan pemikir bebas dengan melintarkan pertanyaan-pertanyaan  yang sangat sensitif bagi kelompok-kelompok masyarakat dan politisi tertentu di negeri ini.
Jika demikian benar. Benar pendapat Mulkhan, bahwa Gus Dur merupakan salah seorang dengan sosok yang mungkin ingin tetap tampil sederhana sebagai manusia sewajarnya, bebas dari segala perangkap sistematis yang baku, yang selama ini justru mematikan daya kreatif dirinya sebagi manusia itu sendiri. Kesan bahwa presiden adalah sosok manusia yang tidak boleh salah, konsisten dan tidak berubah-ubah, serta setiap ucapan dan tindakkannya harus diletakkan dalam standar baku yang umum hanya karena dia seorang presiden sebagaimana selama ini disadari politik, itulah tampaknya yang secara sadar sedang didekonstruksi dan disakralisasi. Mungkin bagi Gus Dur jabatan presiden tidak boleh dan tidak bisa mereduksi dirinya sebagai manusia yang menurut seorang filusuf sebagai misterius, bagi Gus Dur, presiden tetaplah sosok yang boleh dan bisa lupa, salah dan berubah-ubah.dll.
Menurut pengamat sosial poltik K.H. Cholil Bisri, membikin bingung masarakat memang strategi politik Gus Dur, jika Pak Harto menggunakan strategi pecah belah atau adu domba untuk menguasai publik, Gus Dur memakai strategi " bingungkan dan kuasai " . Bisri tidak mengulas baik-buruk dari kedua strategi yang dipakai kedua tokoh politik itu. Tetapi jika dipelajari secara mendalam strategi Gus Dur relatif tidak menyengsarakan.
Hanya masalahnya jika gejala bingung itu juga dialami oleh pelaku pasar, efeknya bisa melebar ke sendi-sendi kehidupan sosial ekonomi yang lebih luas. Rupiah jatuh, disinilah lahir kebingungan yang lebih riil. Semakin banyak orang-orang yang pusing bukan karena ulah dan ucapan Gus Dur, tetapi karena beban biaya yang kian berat.
Lahirnya orang-orang yang bingung dibawah pemerintahan Gus Dur bisa jadi juga merupakan efek lazim dari perubahan gaya pemerintah dari orde sebelumnya ke orde sekarang. Jika demikian, barangkali masalahnya  hanya terletak pada strategi komunikasi politik yang belum mapan. Padahal sebagian dari makna politik adalah managemen konflik secara baik dan transparan sehingga tidak menimbulkan kejutan, korban dan ketegangan yang tidak perlu.
Lebih lanjut Sobary menyatakan bahwa semua itu tentu terkait dengan wawasannya tentang etika politik bahwa dalam politik orang tidak boleh marah. Pertimbangannya mungkin sebuah kearifan bahwa tidak ada musuh abadi dalam politik. Bahkan Sobary juga mengakui bahwa humor dan politik tak bisa dipisahkan. Sesuatu persoalan yang begitu penting bisa diselesaikan lewat humor. Selain itu dalam konteks kekuasaan, humor juga bisa mendekatkan jarak antara penguasa dan rakyat. "kalau omongan atau gaya penguasa dibungkus dengan lelucuan, misalnya, itu akan menyentuh hati semua rakyat dan mencairkan segalanya,"
Namun demikian, Ahmad Fahmi jauh sebelum Gus Dur jatuh, mengingatkan agar "waspada", sebagai presiden Gus Dur harus bisa lebih "bijaksana", jika harus melontarkan humornya.
Kemudian efektifitas komunikasi polittik Gus Dur jika dilihat dari gaya komunikator, agaknya Gus Dur memiliki empat gaya sekaligus, pertama. Gus Dur memiliki gaya komunikator yang bersifat ketegasan, kedua. Gus Dur memiliki gaya komunikator yang suka berdebat, ketiga. Gus Dur juga memiliki gaya komunikasi yang bersifat bermusuhan, dengan menunjukan kebencian dan kecurigaan dan sikap lekas marah, keempat. Gus Dur juga memiliki gaya komunikasi bersifat keagresifan verbal yang diasosiasikan sebagai permusuhan.

F.      Pendidikan Islam  Menurut Gus Dur ( Konsep Sekaligus Tujuan )
Dalam  masyarakat  ditemukan  berbagai  individu  atau  kelompok  yang  berasal dari  budaya  berbeda,  demikian  pula  dalam  pendidikan,  diversitas  tersebut  tidak  bisa dielakkan.  Diversitas  budaya  itu  bisa  ditemukan  di  kalangan  peserta  didik  maupun  para guru  yang  terlibat  -secara  langsung  atau  tidak-  dalam  satu  proses  pendidikan.  Diversitas itu  juga  bisa  ditemukan  melalui  pengkayaan  budaya-budaya  lain  yang  ada  dan berkembang  dalam  konstelasi  budaya,  lokal,  nasional  dan  global.    Diversitas  budaya  ini  akan mungkin  tercapai  dalam  pendidikan  jika  pendidikan  itu  sendiri  mengakui  keragaman yang  ada,  bersikap  terbuka  (openess)  dan  memberi  ruang  kepada  setiap  perbedaan  yang ada untuk terlibat dalam satu proses pendidikan.
Dalam  pelaksanaannya,  Banks  menjelaskan  lima  dimensi  yang  harus  ada  yaitu, pertama,  adanya  integrasi  pendidikan  dalam  kurikulum  (content  integration) yang didalamnya  melibatkan  keragaman  dalam  satu  kultur  pendidikan  yang  tujuan  utamanya adalah  menghapus  prasangka.  Kedua,  konstruksi  ilmu  pengetahuan  (knowledge construction)  yang  diwujudkan  dengan  mengetahui  dan  memahami  secara  komperhensif keragaman  yang  ada.  Ketiga,  pengurangan  prasangka  (prejudice  reduction)  yang  lahir dari  interaksi  antar  keragaman  dalam  kultur  pendidikan.  Keempat,  pedagogik  kesetaraan manusia  (equity  pedagogy)  yang  memberi  ruang  dan  kesempatan  yang  sama  kepada setiap  elemen  yang  beragam.  Kelima,  pemberdayaan  kebudayaan  sekolah  (empowering school  culture). Hal yang  kelima  ini adalah  tujuan  dari  pendidikan  multikultur yaitu  agar sekolah  menjadi  elemen  pengentas  sosial  (transformasi  sosial)  dari  struktur  masyarakat yang timpang  kepada struktur yang berkeadilan.
Dalam sebuah dialog tentang pendidikan Islam, berlangsung di Beirut (Lebanon) tanggal 13-14 Desember 2002 yang diselenggarakan oleh Konrad Adenauer Stiftung, ternyata disepakati adanya berbagai corak pendidikan agama, hal ini juga berlaku untuk pendidikan Islam. Walaupun ada beberapa orang yang terus terang mengakui, maupun yang menganggap pendidikan Islam yang benar haruslah mengajarkan ajaran formal tentang Islam. Diskusi tentang mewujudkan pendidikan Islam yang benar memang terjadi, tapi tidak ada seorang peserta-pun yang menafikan dan mengingkari peranan berbagai corak pendidikan Islam yang telah ada.[3]
Penyelenggaraan pendidikan Islam di negeri manapun, tidak hanya di sampaikan dalam ajaran-ajaran formal Islam di sekolah-sekolah agama/madrasah belaka, melainkan juga melalui sekolah-sekolah non-agama yang berserak diseluruh penjuru dunia. Demikian juga, semangat menjalankan ajaran Islam, datangnya lebih banyak dari komunikasi di luar sekolah, antara berbagai komponen masyarakat Islam.
 Hal lain yang harus diterima sebagai kenyataan hidup kaum muslimin di mana-mana, adalah respon umat Islam terhadap tantangan modernisasi, seperti pengentasan kemiskinan, pelestarian lingkungan hidup dan sebagainya, adalah respon yang tak kalah bermanfaatnya bagi pendidikan Islam, yang perlu kita renungkan secara mendalam.
Pendidikan Islam, tentu saja harus sanggup meluruskan responsi terhadap tantangan modernisasi itu, namun kesadaran kepada hal itu justru belum ada dalam pendidikan Islam di mana-mana. Hal inilah yg merisaukan hati Gus Dur, karena ujungnya adalah diperlukan jawaban yang benar atas pernyataan berikut: Bagaimanakah caranya membuat kesadaran struktural sebagai bagian natural dari perkembangan pendidikan Islam? Dengan ungkapan lain, kita harus menyimak perkembangan pendidikan Islam di berbagai tempat, dan membuat peta yang jelas tentang konfigurasi pendidikan Islam itu sendiri. Ini merupakan pekerjaan rumah, yang mau tak mau harus ditangani dengan baik.
Jelas dari uraian diatas, pendidikan Islam memiliki begitu banyak model pengajaran baik yang berupa pendidikan sekolah, maupun pendidikan non-formal seperti pengajian, arisan dan sebagainya. Ketidakmampuan memahami kenyataan keberagaman  ini, yaitu hanya melihat lembaga pendidikan formal seperti sekolah dan madrasah di tanah air sebagai sebuah institusi pendidikan Islam, hanyalah akan mempersempit pandangan kita tentang pendidikan Islam itu sendiri. Ini berarti, kita hanya mementingkan satu sisi belaka dari pendidikan Islam, dan melupakan sisi non-formal dari pendidikan Islam itu sendiri. Tentu saja menjadi berat tugas para perencana pendidikan Islam, kenyataan ini menunjukkan di sinilah terletak lokasi perjuangan pendidikan Islam.
Senada dengan apa yang disampaikan oleh Gus Dur, banyak pemikir yang menyampaikan hal yang sama, diantaranya adalah Kamrani Buseri, menurutnya,  pada dasarnya pendidikan Islam adalah upaya untuk mencapai kemajuan perkembangan bagi individu peserta didik. Dalam Islam yang disebut kemajuan itu adalah mencakup kemajuan fisik material dan kemajuan mental spritual yang keduanya ditujukan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat”[4]
Oleh karena itu. pendidikan Islam harus menghasilkan manusia yang beriman, berpengetahuan dan berketerampilan dengan senantiasa memodifikasi diri agar sesuai dan sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
 Hanya pendidikan yang megemban tugas ganda secara proporsional yang mampu mewujudkan kejayaan peradaban secara hakiki. Keimanan menjadi kendali bagi moral seseorang dalam aktivitas pemanfaatan pengetahuan dan keterampilannya, sehingga dapat meredam keinginan-keinginan jahat. sebaliknya ia selalu mendorong seseorang untuk melakukan kebaikan atau perbuatan-perbuatan bermanfaat.
Menurut Gus Dur, sistem pendidikan nasional harus diubah dengan pendidikan berbasis masyarakat. Sebab sistem pendidikan kita sekarang hanya formal. Orang tidak punya ijazah tidak dipakai, padahal banyak warga masyarakat yang tidak berijazah tapi memiliki kemampuan. Termasuk pendidikan pesantren yang sudah sekian tahun mengaji tapi tidak pernah dihargai, paparnya.
Bukti sejarah mengatakan, di tengah pergolakan perjuangan bangsa, pesantren tetap memperlihatkan keberadaannya sebagai lembaga pendidikan yang mempersiapkan kader-kader bangsa dalam menyokong pergerakan kemerdekaan. Motor gerakan PKI di tahun 1965-1966, salah satunya adalah komponen pesantren. Kemudian, sejak 1970-an kita melihat perubahan konfigurasi kelas menengah di Indonesia, salah satu pendorong utamanya adalah kelompok santri. Sehingga sampai saat ini, di pentas nasional, kita mengenal Gus Dur, Nurcholish Madjid, Hidayat Nurwahid, Din Syamsuddin, Hasyim Muzadi, Emha Ainun Najib, Ali Yafie, Quraish Shihab dan banyak lagi tokoh lain yang merupakan lulusan dari pendidikan pesantren. Alumni pesantren yang disebutkan di atas telah menjadi pelopor bukan saja di bidang keagamaan, tetapi juga menjadi bahagian dari pembangunan bangsa di berbagai bidang.
Gus Dur melihat pondok pesantren dari berbagai sudut. Pondok pesantren sebagai lembaga kultural yang menggunakan simbol-simbol budaya jawa; sebagai agen pembaharuan yang memeperkenalkan gagasan pembangunan pedesaan (rural development); sebagai pusat kegiatan belajar masyarakat (centre of community learning); dan juga pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang bersandar pada silabi, yang dibawakan oleh Imam Al- Suyuti lebih dari 500 tahun-nan yang lalu, dalam Itman al-dirayah. Silabi inilah yang menjadi dasar acuan pondok pesantren tradisional selama ini, dengan pengembangan kajian Islam yang terbagi dalam 14 macam disiplin ilmu yang kita kenal sekarang ini, dari nahwu/ tata bahasa arab klasik hingga tafsir al-Qur’an dan teks hadist nabi, semuanya dipelajari dalam lingkungan pondok pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam. Melalui pondok pesantren juga nilai ke-Islam-an ditularkan dari generasi ke generasi.
Sudah tentu, cara penularan seperti itu merupakan titik sambung pengetahuan tentang Islam secara rinci, dari generasi ke generasi. Di satu sisi, ajaran-ajaran formal Islam dipertahankan sebagai sebuah keharusan yang diterima kaum muslimin diberbagai penjuru dunia. Tetapi, disini juga terdapat benih-benih perubahan, yang membedakan antara kaum muslimin di sebuah kawasan dengan kaum muslimin lainnya dari kawasan yang lain pula. Tentang perbedaan antara kaum muslimin di suatu kawasan ini, Gus Dur pernah mengajukan sebuah makalah kepada Universitas PBB di Tokyo pada tahun 1980-an. Tentang perlu adanya study kawasan tentang Islam di lingkungan Afrika Hitam, budaya Afrika Utara dan negeri-negeri Arab, budaya Turki-Persia-Afghan, budaya Islam di Asia Selatan, budaya Islam di Asia Tenggara dan budaya minoritas  muslim di kawasan-kawasan industri maju. Sudah tentu, kajian kawasan (area study's) ini diteliti bersamaan dengan kajian Islam klasik (classiccal Islamic study’s).[5]



[1]  Greg Barton, Biografi Gus Dur The Authorized Biography of ABDURRAHMAN WAHID, Yogyakarta: LkiS. 2006.  h. 25
[2] K.H. Mustafa Bisri, Beyond The Simbol, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2000), cet.1 h. 23-24
[3] Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita, Agama Masyarakat Negara Demokrasi, The Wahid Institute.  Jakarta:  2006.  h.223

[4] Kamrani Buseri.. Antologi Pendidikan Islam dan Dakujah UII Press, Yogyakarta:  2003h.123
[5] Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita, Agama Masyarakat Negara Demokrasi, The Wahid Institute.  Jakarta:  2006.  h.224

0 komentar:

Poskan Komentar